Selasa, 15 Desember 2009

Meneliti Keseharian Penderita SLB ( Sekolah Luar Biasa) Nusantara


NAMA : NUR FAJRIAH 10606107

RANTI IRAWATI P.H 10606063

YUYUN SABRINA 10606091

KELAS : 4SA01

ABSTRAK

Sekolah Luar Biasa atau disingkat dengan SLB biasanya menampung anak – anak dengan kelainan mental. Tak banyak masyarakat yang mengenal PLB ( Pendidikan Luar Biasa) atau SLB ( Sekolah Luar Biasa) sebagai wadah untuk menampung para penderita keterbelakangan mental dan lain – lain. Biasanya SLB hanya menampung penderita tuna rungu, tuna grahita dan sebagainya. Namun, penulis menemukan SLB Nusantara, yang menyatukan sekolah dan asrama dengan menampung penderita autis, epilepsy sampai cerebral palsy untuk menimba ilmu sekaligus menetap disana. Tujuan penulis meneliti ini adalah karena penulis ingin tahu bagaimana keseharian para penderita di asrama, bagaimana proses belajar mengajar dan mengetahui alas an mengapa sekolah dan asrama disatukan. Sumber informasi didapat melalui wawancara dengan pengajar, pemilik SLB dan pengasuh serta observasi di lapangan. Selain itu penulis menambahkan informasi dari internet.

PENDAHULUAN

Pendidikan Luar Biasa adalah usaha sadar untuk menumbuhkembangkan semua potensi kemanusiaan peserta didik luar biasa baik yang menyandang ketunaan maupun yang dikaruniai keunggulan (berkebutuhan khusus) secara optimal dan terintegrasi agar bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga dan masyarakat.

Bertolak dari realita khidupan yang beraneka ragam, maka pendidikan luar biasa pada hakikatnya adalah pendidikan yang bertolak dari keragaman antar manusia yang tujuannya menumbuhkembangkan semua potensi kemanusiaan secara optimal dan terintegrasi yang ada dalam diri peserta didik agar semua potensi kemanusiaan tersebut dapat bermanfaat dengan sebaik-baiknya.

Autis (Autism/Autisme/Autisma) merupakan gangguan perkembangan neurobiologis yang berat, yang timbul dalam 3 (tiga) tahun pertama kehidupan anak. Gejala-gejala bisa terlihat sejak beberapa hari/minggu setelah bayi lahir, atau beberapa bulan kemudian setelah tahap-tahap perkembangan yang seharusnya ada tetapi tidak dicapai oleh batita yang bersangkutan. Ada juga anak-anak yang mula-mula perkembangannya tampak normal, tetapi kemudian terjadi kemunduran pada umur 18 bulan, yaitu berbagai kemampuan yang tadinya sudah ada, misalnya sebelumnya anak sudah berbicara sepatah-dua-patah kata, tetapi kemudian menghilang.

Epilepsi merupakan salah satu penyakit neurologis yang utama. Epilepsi sering dihubungkan dengan disabilitas fisik, disabilitas mental, dan konsekuensi psikososial yang berat bagi penyandangnya (pendidikan yang rendah, pengangguran yang tinggi, stigma sosial, rasa rendah diri, kecenderungan tidak menikah bagi penyandangnya). Sebagian besar kasus epilepsi dimulai pada masa anak-anak.

Cerebral palsy adalah suatu gangguan atau kelainan yang terjadi pada suatu kurun waktu dalam perkembangan anak, mengenai sel-sel motorik di dalam susunan saraf pusat, bersifat kronik dan tidak progresif akibat kelainan atau cacat pada jaringan otak yang belum selesai pertumbuhannya.

Seperti yang kita ketahui, Tuna rungu yaitu seseorang yang tidak bisa mnedengar atau tuli, sedangkan Tuna daksa adalah seseorang yang mempunyai cacat fisik, baik yang tidak mempunyai tangan ataupun kaki. Selain itu Tuna grahita ialah seseorang yang cacat mental.

ISI

I. Profil Tempat

SLB Nusantara ( Sekolah pendidikan Luar Biasa “Nusantara”)

Bagian B,C,D ( Tuna rungu, Tuna Grahita, Tuna daksa) (Hiperaktif, Down Syndrome, Autis, Epilepsi, Cerabral Palsy, Yatim Piatu.

Usia dini – usia lanjut.

Jl. Sempu Raya RT 03/04 No.120 Beji Depok 1 kode pos 16421

II. Biodata Pengasuh

Nama : Fredy Wiliansyah

Umur : 16 tahun

TTL : 18 Desember 1994

Anak ke : 1 dari 4 bersaudara

Alamat : Asrama

Mengasuh selama 3 tahun

Alasan menjadi pengasuh : - mencari pengalaman dan sekolah berhenti sampai kelas 2 SMP

III. Biodata Pengajar

1. Nama : Pamila Maisari

Alamat : Depok 1

Anak ke : 4 dari 4 bersaudara

TTL : Bogor, 1 Mei 1982

Motivasi : Menambah pengalaman, ingin membangun lembaga psikologi.

Mulai mengajar : Maret 2009

2. Nama : Astri Nur Kusumastuti

Alamat : Jl. Larona no.5 Duren tiga

TTL : Jakarta, 9 Oktober 1980

Anak ke : 3 dari 3 bersaudara

Motivasi : ingin membangun lembaga Psikologi

Mulai mengajar : sejak Oktober 2009

IV. Profil Murid / Penderita

1. Nama : Harisadin Muhammad

Umur : 10 tahun

Kelas : 3 SD

Anak ke : 2 dari 5 bersaudara

Alamat : Depok

Penderita : Epilepsi

2. Nama : Fatimah

Umur : 8 tahun

Kelas : 3 SD

Penderita : Cacat fisik

3. Nama :Ari

Umur : 22 tahun

Kelas : 2 SMA

Alamat : Sumedang

Penderita : Epilepsi

V. Kehidupan sehari – hari penderita SLB Nusantara

Setelah penulis melakukan wawancara dan observasi, data yang didapat antara lain kegiatan yang dilakukan oleh para penderita SLB Nusantara :

Senin

Belajar di Srengseng Sawah 08.00 – 12.00

Makan siang 12.00 – 12.30

Bimbel sesuai kelas

(menggambar, menulis, bermain) 13.00

Mandi 15.00

Makan sore 18.00

Makan malam 19.00

Mengerjakan PR dan mengaji 19.30

Tidur 20.00

Selasa

Olahraga

Rabu

Belajar di Srengseng sawah

Kamis

Pramuka

Jum’at

Belajar di srengseng sawah

Sabtu dan minggu

Libur / pulang ke rumah masing – masing

Keterangan :

1. Untuk kegiatan hari selasa sampai jum’at selebihnya sama dengan hari senin.
2. Murid / penderita belajar di sekolah dan menginap di asrama
3. Terkadang ada orang tua yang menunggui saat penderita belajar, Ada pula yang menjemput setelah anaknya selesai belajar di SLB Nusantara.

VI. Proses Belajar Mengajar di SLB Nusantara

Proses belajar mengajar di sebuah SLB beda halnya dengan Sekolah pada umumnya. Karena Diperlukan perhatian serta perlakuan khusus untuk menangani murid – murid SLB selama proses belajar mengajar berlangsung. Menurut salah satu pengajar SLB Nusantara, Ibu Mila mengatakan “ Biasanya anak – anak ada yang berontak kalau kita mengajar, kita harus memberinya perhatian yang khusus supaya bias belajar dengan baik”. Beliau juga berpendapat bahwa di dalam satu ruang kelas harus terdapat minimal dua guru.

Dengan demikian, pengajar – pengajar tersebut mensiasati situasi ini dengan membuat proses mengajar lebih ceria dan gembira. Seringkali mereka belajar dengan menggunakan gambar – gambar berwarna warni, bola – bola besar dan sebagainya. Sehingga suasana kelas lebih teratur dan kondusif.

Berikut terdapat dua aspek yang dinilai oleh pengajar, antara lain :

Aspek sikap

(sikap penyesuaian diri)

1. kerjasama
2. aktifitas
3. tangung jawab
4. daya tangkap
5. setia kawan
6. sopan santun
7. ketelitian / kerapihan
8. ramah tamah
9. inisiatif
10. periang
11. pemberani
12. pembersih
13. penangis
14. penentang
15. pengganggu
16. pemarah
17. agresif
18. masa bodoh

Aspek Psikomotor

( Perkembangan kemampuan anak)

1. Perkembangan bahasa
2. Penguasaan bahasa
3. daya tangkap
4. bercakap – cakap
5. mengucap syair
6. dramatisasi
7. perkembangan motorik
8. keseimbangan badan
9. koordinsai otot.
10. kesehatan
11. pendengaran
12. perabaan
13. ungkapan kreatif
14. membentuk tanah liat
15. menyanyi
16. menyusun
17. ritme
18. olahraga
19. bermain
20. senam
21. orientasi
22. mobilitas
23. perkembangan skolastik
24. persiapan membaca

VII. Alasan sekolah dan asrama disatukan

Alasan utama mengapa Sekolah Luar Biasa ( SLB) Nusantara disatukan dengan asramanya yaitu supaya para penderita dapat dengan mudahnya bersosialisasi dengan teman – teman senasib dan sepenanggungan. Seperti yang telah dituturkan oleh Bu Lin, Wakil Kepala Sekolah Luar Biasa (SLB) Nusantara “ Tujuan sekolah dan asrama digabungkan adalah supaya mempermudah para penderita untuk menetap di asrama sekaligus mempermudah mereka untuk langsung sekolah tanpa harus pergi jauh”. Hal ini juga meringankan beban orang tua sang penderita untuk menyekolahkan mereka. Dengan demikian para penderita dapat menyesuaikan diri untuk bersosialisasi ke dunia luar nantinya.

KESIMPULAN

Dengan meneliti kehidupan penderita Sekolah Luar Biasa ( SLB) Nusantara ini, penulis dapat mengambil hikmah. Penulis mengajak para pembaca untuk lebih bersyukur dalam menjalani kehidupan ini. Lebih mensyukuri apa yang telah kita punya, karena di luar sana masih ada sahabat – sahabat kita yang serba kekurangan daripada kita.

Tiga hal yang dapat disimpulkan bahwa kehidupan sehari – hari seorang penderita SLB memang hampir sama dengan kita, namun yang menjadikannya berbeda adalah tingkah laku mereka. Metode belajar mengajar di sekolah pun berbeda karena sifat dan tingkah laku yang berbeda – beda. Dan yang terakhir adalah digabungnya sekolah dan asrama karena mempermudah para penderita bersosialisasi dengan sesame penderita.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.slb-pangkalpinang.net/

http://www.infoautis.com/index.php

www.kalbe.co.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 
Blog Design by Template-Mama.